Call Center

031 - 99 787 999

Email

[email protected]

Jam Layanan

Senin - Sabtu: 8 AM - 4 PM

Hallo sahabat TAZA yang diberkati Allah SWT, apa kabar? Semoga kita senantiasa dalam perlindungan Allah SWT. amiin..

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai Pengertian Wakaf. Anda tentu sering mendengar kata Wakaf, apalagi mungkin kita sering mendengar masalah terkait wakaf dalam kehidupan sehari – hari. Kita sering mendengar bahwa seorang anak mungkin meminta kembali tanah yang telah di wakafkan oleh orang tua mereka semasa hidup. Hal – hal semacam ini sangat umum terjad dimasyarakat.

Semua itu terjadi dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang apa itu wakaf dan bagaimana hukumnya. Untuk itu, dalam pembahasan kita kali ini, kita akan membahas mengenai pengertian wakaf dan hukumnya. Berikut ulasannya:

Pengertian Wakaf

Pengertian Wakaf

Meskipun sudah sangat umum dan sering digunakan, kata wakaf belum dipahami secara dalam oleh sebagian besar masyarakat. Banyak yang menyamakan wakaf dengan sedekah dan infaq. Padahal wakaf adalah sesuatu yang sangat berbeda dibanding dengan kata tersebut.

Secara bahasa, kata wakaf diambil dari kata wakaf yang artinya “menahan” atau “berhenti”. Wakaf, sebagai satu istilah dalam syariah Islam, yang diartikan sebagai penahanan hak milik atas materi benda (al-‘ain) untuk tujuan menyedekahkan manfaat atau faedahnya (al-manfa‘ah) (al-Jurjani: 328). Selanjutnya, para ulama juga memiliki perbedaan pendapat dalam mengartikan wakaf, sebagai berikut:

Malikiyah berpendapat, wakaf adalah menjadikan manfaat suatu harta yang dimiliki (walaupun pemilikannya dengan cara sewa) untuk diberikan kepada orang yang berhak dengan satu akad (shighat) dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan Wakif (al-Dasuqi: 2/187)

Hanafiyah mengartikan wakaf sebagai menahan materi benda (al-‘ain) milik Wakif dan menyedekahkan atau mewakafkan manfaatnya kepada siapapun yang diinginkan untuk tujuan kebajikan (Ibnu al-Humam: 6/203)

Hanabilah mendefinisikan wakaf dengan bahasa yang sederhana, yaitu menahan asal harta (tanah) dan menyedekahkan manfaat yang dihasilkan (Ibnu Qudamah: 6/185)

Syafi‘iyah mengartikan wakaf dengan menahan harta yang bisa memberi manfaat serta kekal materi bendanya (al-‘ain) dengan cara memutuskan hak pengelolaan yang dimiliki oleh Wakif untuk diserahkan kepada Nazhir yang dibolehkan oleh syariah (al-Syarbini: 2/376)

Selanjutnya, menurut UU Wakaf Nomor 41 Tahun 2004, pengertian wakaf adalah perbuatan hukum wakif (pihak yang melakukan wakaf) untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum sesuai syariah

Dari berbagai pendapat diatas dapat kita simpulkan bahwa pengertian wakaf adalah merupakan bentuk Sedekah Jariyah, yaitu menyedekahkan harta kita untuk kepentingan ummat. Harta Wakaf tidak boleh tidak boleh dijual, berkurang nilainya dan tidak boleh diwariskan. Karena wakaf pada dasarnya adalah menyerahkan kepemilikan harta yang dimiliki menjadi milik Allah atas nama ummat.

Dari sini jelas bahwa saat seseorang telah mewakafkan harta tersebut, maka siapapun tidak boleh memintanya kembali dengan alasan apapun. Namun dalam kehidupan dimasyarakat sering kita temui anak yang tiba – tiba meminta bangunan atau tanah yang tuanya kembali.

Dasar Hukum Wakaf

Dalam surat Ali Imran ( QS 3:92) :

Artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

Ayat ini menjelaskan bahwa dengan menafkahkan sebagian harta maka kebaikan kita akan menjadi sempurna. Dalam hal ini adalah dengan mewakafkan harta kita, maka Allah sesungguhnya telah mengetahui apa yang telah kita lakukan dan akan memberikan ganjaran atau pahala yang setimpal.

Baca Juga: Apa Perbedaan Infaq Dan Sedekah?

Selanjutnya, dalam suatu hadist Rasulullah SAW juga bersabda,

 “Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia bertanya kepada Nabi dengan berkata; Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh tanah di Khaibar yang nilainya tinggi dan tidak pernah saya peroleh yang lebih tinggi nilainya dari padanya. Apa yang baginda perintahkan kepada saya untuk melakukannya? Sabda Rasulullah: “Kalau kamu mau, tahan sumbernya dan sedekahkan manfaat atau faedahnya.” Lalu Umar menyedekahkannya, ia tidak boleh dijual, diberikan, atau dijadikan warisan. Umar menyedekahkan kepada fakir miskin, untuk keluarga, untuk memerdekakan budak, untuk orang yang berperang di jalan Allah, orang musafir dan para tamu. Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya, seperti memakan atau memberi makan kawan tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.”

Dari hadist tersebut dapat kita ketahui bahwa dengan mewakafkan harta kita maka, kita juga akan memberi manfaat bagi umat. Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa pengertian wakaf adalah menyedekahkan harta kita untuk kepentingan umat dan harta tersebut tidak boleh dijual, diminta kembali maupun berkurang nilainya.

TAZA

Lembaga Filantropi Amil Zakat, Infaq, Sedekah, Wakaf dan Dana Kemanusian untuk kebaikan ummat.

Berita Menarik Lain :

Follow us @ TamanZakat